
Sintang zkr.com. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sintang, Siti Musrikah, menyoroti kondisi memprihatinkan terkait ketersediaan fasilitas penampungan sampah sementara di wilayahnya. Menurutnya, jumlah kontainer yang ada saat ini masih sangat jauh dari kata ideal untuk memenuhi kebutuhan pengelolaan sampah yang terus meningkat di Kabupaten Sintang.
“Kami saat ini hanya memiliki 9 unit kontainer penampung sampah. Ironisnya, dari jumlah tersebut, banyak yang kondisinya sudah rusak dan tidak layak pakai,” ungkap Siti Musrikah saat diwawancarai baru-baru ini..
Keterbatasan jumlah kontainer ini, lanjut Siti, menjadi salah satu kendala utama yang dihadapi DLH dalam upaya pengelolaan sampah di Sintang. Volume sampah yang terus bertambah setiap harinya membuat pihaknya kewalahan dalam menampung dan mengangkut seluruh sampah yang dihasilkan oleh masyarakat.
“Dengan jumlah yang sangat terbatas dan kondisi yang banyak rusak, kami benar-benar kewalahan dalam menangani volume sampah yang terus meningkat ini. Kami membutuhkan penambahan kontainer secara signifikan agar pengelolaan sampah bisa berjalan lebih optimal,” jelas Siti.
Ia menambahkan bahwa idealnya, setiap Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di Sintang harus dilengkapi dengan kontainer yang memadai dan dalam kondisi baik. Hal ini penting untuk mencegah sampah berserakan di lingkungan sekitar TPS, yang dapat menimbulkan masalah kesehatan dan estetika.
DLH Sintang sendiri terus berupaya mencari solusi untuk mengatasi permasalahan ini, termasuk menjajaki kemungkinan pengadaan kontainer baru melalui anggaran daerah maupun mencari sumber pendanaan lain. Namun, proses tersebut membutuhkan waktu dan alokasi anggaran yang tidak sedikit.
“Kami berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih terhadap masalah ini. Penambahan kontainer sampah bukan hanya sekadar fasilitas, tetapi merupakan investasi penting untuk menciptakan lingkungan Sintang yang lebih bersih dan sehat bagi seluruh warganya,” tutup Siti Musrikah.
Masalah pengelolaan sampah di Sintang ini menjadi cerminan tantangan yang dihadapi banyak daerah di Indonesia, di mana pertumbuhan penduduk dan peningkatan aktivitas ekonomi seringkali tidak diimbangi dengan ketersediaan infrastruktur pengelolaan sampah yang memadai.









